Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ...
Sebuah foto yang menggambarkan seorang ibu berumur 97 tahun di Cina
yang sedang menyuapi dan merawat anaknya yang lumpuh yang sudah berumur
60 tahun. Ini sudah
dilakukannya sejak 19 tahun yang lalu.
Foto ini mengingatkan kita betapa cinta seorang ibu tidak akan pernah lekang oleh waktu.
Subhanallah yach sahabat, .. cinta kasih seorang ibu .. sebenarnya
kisah foto ini hanya sampai disini .., tapi izinkan yach Admin
menambahkan sebuah renungan untuk kita semua .. renungan betapa kasih
ibu itu sangat luar biasa, sudahkah kita anaknya membahagiakan beliau ?
.. Selamat menikmatinya ..

--------
Kasih ibu kepada beta ..
Tak terhingga sepanjang masa, ..
Sepenggal lirik lagu di atas kiranya sangat cocok dalam mengambarkan kasih dan sayang seorang ibu kepada anaknya.
Coba mari kita kembali merenung sejenak, sudah berapa tahun kita hidup
di dunia ini dan sudah berapa banyak kita membalas tulus kasih seorang
ibu?
Apakah kita hadir ke dunia ini begitu saja? Jawabannya
tentu saja “tidak”. Ada sesosok pribadi yang telah rela mempertaruhkan
nyawanya, sehingga kita bisa menghirup udara segar di bumi Allah yang
elok ini. Yah, dialah “ibu”.
Seorang wanita berjuta kasih.
Lewat pengorbanan dan perjuangan beliau kita bisa mengecap manisnya madu
kehidupan. Bukan hanya darah, tetesan air mata dan juga peluh
kesakitan, namun juga untaian do’a dan harapan disenandungkan untuk
kesejahteraan dan kebahagian kita, anaknya.
Jangan kita mengira
kalau perjuangan dan pengorbanan itu dimulai hanya dari semenjak kita
lahir saja. Perlu kita sadari bersama, bahwa pengorbanan dan perjuangan
itu sudah dimulai jauh sebelum tangisan pertama kita terdengar. Ya
sembilan bulan sebelum itu seorang ibu telah mengandung dan membawa kita
kemana-mana dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Belum lagi
ketika melahirkan kita, seorang ibu harus bersabung nyawa antara hidup
dan mati. Sungguh sebuah pengorbanan yang sangat luar biasa. Hanya
wanita yang tangguh dan memiliki cinta kasih yang luar biasa yang mampu
menjalani dan melewati itu semua.
Cinta kasih itulah yang
telah membuat seorang ibu mampu memikul beban yang luar biasa itu. Rasa
itu jugalah yang telah membuat ibu sanggup menahan penat, lelah dan
berjuta rasa tidak nyaman yang mendera ketika mengandung dan melahirkan
kita.
Hari itu kita telah dilahirkan. Kelahiran kita disambut
dengan suka cita oleh orang yang ada di sekeliling kita. Sesosok manusia
munggil nan lucu telah lahir dari rahim seorang wanita yang tangguh dan
penuh kasih sayang−dialah ibu kita−. Penat dan lelah serta rasa sakit
seketika hilang ketika mendengar tangisan pertama kita, anaknya yang
kelak diharapkan akan membawa sejuta harapan dari beliau.
Sesaat setelah, itu sang ibu segera memberikan ASI pertamanya kepada
kita. Ketika itulah kita akan meresakan hangatnya aliran cinta dan kasih
sayang dari seorang ibu yang tidak akan mungkin terbalas sampai
kapanpun. Seiring dengan kelahiran kita, itu artinya perjuangan dan
pengorbanan seorang ibu yang lebih berat akan segera dimulai kembali.
Waktu terus saja berjalan, kita telah tumbuh menjadi seorang bayi yang
mungil dan lucu. Seorang ibu begitu telaten merawat kita dengan penuh
cinta dan kasih sayang yang tulus dan tak tergantikan. Ibu rela
mengurangi waktu tidurnya demi kenyamanan tidur kita, anaknya terkasih.
Seekor nyamukpun tidak direlakan oleh ibu untuk hinggap dan menggigit
tubuh kita. Ketika kita menangis, ibu pun dengan sigap mencari sebab
kenapa kita menangis. Apakah kerena lapar dan haus atau karena popok
anaknya basah dan harus diganti? Ah, sungguh luar biasa kasih sayangmu
ibu.
Ibu adalah wanita yang hebat. Bahkan sangat hebat dan luar
biasa. Tidak ada satu katapun yang pantas dan bisa untuk melukiskan
kehebatan kasih sayang seorang ibu. Ibu adalah sosok pribadi yang
pemberi. Seorang pemberi tanpa pamrih dan selalu diiringi dengan
hangatnya kasih sayang. Mulai dari do’a, pengorbanan yang tulus, tenaga,
fikiran, waktu, harta benda dan juga air mata telah diberikan oleh
seorang ibu kepada kita.
Hanya satu harapan beliau, yaitu
supaya kita−anak-anaknya− bisa bahagia dan hidup sejahtera. Sederhana
bukan? Ya, tapi tidak dengan pengorbanan ibu untuk kita, pegorbanan
beliau sungguh luar biasa. Kadang agar kita bahagia, tidak jarang
seorang ibu harus mengabaikan kebahagiaan untuk dirinya sendiri.
Ketika kita sudah memasuki usia sekolah dan baru saja belajar untuk
menulis dan membaca. Seorang ibu dengan begitu sabar dan penuh kasih
sayang mendampingi kita dalam mengeja setiap huruf yang kita baca. Ibu
juga dengan begitu telaten mengajarkan tangan kita untuk mengukir setiap
goresan angka dan huruf di atas lembaran kertas putih. Hal itu terus
berlangsung hingga kita pandai dan lancar membaca serta menulis.
Tidak terasa waktu begitu cepat berputar dan berlalu. Kita, bayi mungil
nan lucu tadi telah tumbuh menjadi sesosok pribadi yang dewasa. Sekian
tahun sudah berlalu semenjak tangisan pertama kita terdengar. Selama itu
pula kita telah dibesarkan dan dididik dengan hangatnya sentuhan cinta
dan kasih sayang dari seorang ibu.
Bahkan sampai saat sekarang
ini kita tetap saja merasakan hangatnya aliran kasih sayang ibu itu.
Kasih sayang yang tidak akan pernah habis sampai kapanpun. Kasih sayang
seorang ibu kepada kita ibarat matahari yang tiada jemu menyinari
hamparan bumi Allah ini. Mengingat begitu besarnya jasa dan kasih sayang
seorang ibu kepada kepada kita, rasanya tidak berlebihan Allah Tuhan
Yang Maha Agung menganjar jasa beliau dengan meletakkan surga di bawah
telapak kaki ibu. Agar kita tidak lupa dan durhaka kepada beliau.
Begitu besar cinta, kasih dan sayang seorang ibu kepada kita. Apakah
masih ada alasan buat kita untuk melukai hatinya? Apakah masih ada
alasan bagi kita untuk tidak membahagiakan beliau? Tanyalah hati kecil
kita masing-masing, dan jawablah dengan jujur setulus hati.
Mulai hari ini mari kita berkomitmen untuk tidak akan melukai hati
seorang ibu. Mulai saat ini mari kita berjanji untuk tidak akan membuat
seorang ibu meneteskan air mata, akibat luka karena sayatan pisau
perbuatan buruk kita.
Mulai detik ini mari kita tingkatkan
bakhti kita kepada ibu, orang yang telah melahirkan kita. Ketika beliau
sudah tiadapun kita masih harus berbakti melalui do’a. Do’a seorang anak
yang shaleh.
Ingatlah, Kasih ibu itu sepanjang jalan dan sepanjang masa,….
*Oleh: Heru Perdana Putra ──sebuah renungan──
... "Terimakasih Ibu, engkau telah memberiku pelajaran yang sangat
berharga, bahwa hidup harus dihadapi dengan ketenangan jiwa dan terutama
penyerahan diri kepada Tuhan Sang Pencipta" ...
~ o ~
Salam santun dan keep istiqomah ...
** Sumber : sosbud.kompasiana.com/2012/01/05/ibu-kasih-sayangmu-sepanjang-masa/
Bagikan tausiyah ini kepada teman-temanmu dengan meng-klik
'bagikan'/'share' dan undang temen2mu gabung dg klik ‘Invite Your
Friends!’